Senin, 01 April 2013

Memberi Itu Mulia


       Ketika bencana kekeringan melanda Madinah, sumur Rum menjadi satu-satunya sumber mata air bagi penduduk. Sayangnya, sumur tersebut milik seorang Yahudi tua bernama Yusuf. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk menjual air sumur dengan harga sekehendaknya.
            Melihat keadaan penduduk Madinah,  Utsman bin Affan ra segera menemui Yusuf, si pemilik sumur. “Wahai Yusuf, maukah engkau menjual sumur Rum ini kepadaku?”
            Yahudi tua yang mendapatkan banyak keuntungan dari sumur itu menolak. “Tidak, saya tidak akan menjualnya kepada siapa pun!” katanya.
            Menyadari situasi ini, Utsman dengan cepat menyusun siasat.  “Saya tahu sumber pendapatan Anda
berasal dari sumur ini. Tapi bagaimana kalau saya membelinya separuh saja. Dengan demikian, saya bisa mengambil air dari sumur ini sehari, lalu hari berikutnya Anda bisa memanfaatkannya.”
            Yahudi tua itu berpikir. “Ah, tentu akan sangat menguntungkan. Aku bisa menjualnya dengan harga tinggi,” katanya dalam hati. “Baiklah kalau begitu. Aku jual separuh sumur ini dengan harga 12 ribu dirham!”
            Harga yang sangat mahal untuk sebuah sumur. Namun Utsman tak ragu untuk membelinya. Setelah membayar seharga yang diinginkan, Utsman menyuruh pelayannya untuk mengumumkan kepada para penduduk, bahwa mereka bebas mengambil sumur Rum secara gratis pada hari yang menjadi haknya.
            Sejak saat itu, penduduk Madinah bebas mengambil air sebanyak mungkin untuk keperluan mereka. Lain halnya dengan si Yahudi tua. Ia kebingungan lantaran tak seorang pun yang membeli airnya. Ketika Utsman datang menemuinya untuk membeli separuh sisa air sumurnya, ia tidak bisa menolak.
            Peristiwa tersebut selain menunjukkan kecerdikan Utsman, juga mencerminkan kedermawanannya. Ia tidak segan-segan mengorbankan kekayaannya untuk kepentingan kaum muslimin. Tindakan seperti itu, bukan sekali dua kali ia lakukan. Kala meletus perang Tabuk, ia menyedekahkan seluruh hartanya sehingga mencapai 900 ekor unta dan 100 ekor kuda. Belum lagi uang yang jumlahnya ribuan dinar. Tindakan yang sama juga dilakukan sahabat lain, seperti Abu Bakar Shiddiq, Abdurahman bin Auf, Umar bin Khathab, Thalhah bin Ubaidillah, dan beberapa sahabat lainnya.
            Begitu gigihnya para sahabat berlomba menginfakkan harta ini, karena mereka tahu keutamaannya. Allah berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki...,” (QS al-Baqarah: 261).
            Sayangnya, tidak banyak orang yang memiliki kedermawanan semisal Utsman bin Affan. Orang-orang yang memiliki kekayaan melimpah ternyata amat enggan berinfak. Seakan-akan mereka akan jatuh miskin bila mengeluarkan sebagian hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Mengapa mereka begitu enggan memberi?
            Ada beberapa faktor yang menyebabkannya. Antara lain, cinta dunia dan takut (siksa) akhirat. Ini adalah sifat orang kafir. Mereka yang diuji Allah dengan kemegahan dunia, jika tidak bisa mengendalikannya akan cenderung bersikap bakhil. Ia takut pemberiannya akan menyebabkan hartanya berkurang, dan orang lain bertambah kaya. Padahal tidak pernah ada cerita orang yang dermawan jatuh miskin. Bahkan sebaliknya, malah bertambah kaya lantaran Allah sendiri memberikan jaminan melalui firman-Nya, “Dan apa saja yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya,” (QS Saba’: 39).
            Selain itu, kelemahan untuk mengendalikan hawa nafsu juga menyebabkan orang bersikap bakhil. Apalagi pada dasarnya manusia yang tidak memiliki pondasi iman yang  kokoh memang memilik sifat kikir. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya dia (manusia) sangat bakhil karena cintanya kepada harta,” (QS al-‘Aadiyaat: 8). Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, “Anak Adam tumbuh dan menjadi besar bersama kecintaan terhadap dunia dan panjang usia,” (HR Bukhari).
            Menurut Ibnu Hajar, sesuatu yang paling disukai manusia adalah dirinya sendiri. Dia menginginkan dirinya tetap hidup. Harta adalah salah satu sarana utama agar manusia bisa menghindari  kematian. Karenanya, setiap kali si bakhil kehilangan harta, setiap kali pula ia merasa usianya semakin pendek. Sebaliknya, semakin banyak harta yang ia kumpulkan, semakin tebal tingkat kekikirannya. Akhirnya yang muncul pada dirinya tidak hanya sifat kikir, tapi juga dengki.
            Apabila penyakit dengki sudah melanda seseorang, ia tidak semata cinta kepada harta yang berada di tangannya, tapi kekayaan orang lain pun ingin ia miliki. Dengan segala tenaga dan usaha ia tempuh agar milik orang lain itu jatuh ke pangkuannya. Akibatnya yang muncul adalah keserakahan, ketamakan dan  ambisi. Untuk mewujudkannya ia tak segan-segan menempuh segala cara.
            Jika seseorang sudah merasa memiliki apa yang ia kehendaki dan mampu mewujudkan segala impiannya, akan mudah terjangkit penyakit sombong. Dan, inilah awal dari segala kehancuran. Iblis terjerumus ke neraka akibat kesombongannya tidak mau sujud kepada Nabi Adam as. Qarun terperosok ke dalam tanah bersama kekayaannya akibat kesombongan dan kekikirannya.
            Sifat bakhil, dengki dan sombong ibarat api dengan asap yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya laksana lautan dengan pantai. Sifat-sifat tersebut tidak hanya berakibat kepada yang bersangkutan saja, tapi juga terhadap orang-orang sekitarnya. Kelangsungan dakwah akan terhambat lantaran tidak adanya kekompakan antar juru dakwah. Sebaliknya, umat akan terjebak kepada perpecahan. Seiring dengan itu, beban dakwah akan semakin berat, perjalanannya pun akan semakin panjang dan berliku.
            Karena itu, saatnya menyatukan umat dengan menumbuhkan kedemawanan. Saatnya meringankan beban dakwah dengan saling memberi. Saatnya memperpendek jalannya dakwah dengan menyingkirkan kekikiran. Mari tumbuhkan kedermawanan. Mari singkirkan kekikiran.

Sumber : "101 Butiran Dakwah" Karya Ust. Hepi Andi Bastoni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar