Jumat, 14 Juni 2013

Petuah bagi Ahli Maksiat


Suatu saat seorang ahli hikmah, Ibrahim bin Adham didatangi seseorang yang mengaku ahli maksiat. Ia mengutarakan niatnya untuk keluar dari kubangan dunia hitam. Maka Ibrahim bin Adham memberikan nasihatnya, seraya berkata,
“Jika Anda ingin menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka tidak mengapa kamu meneruskan kesukaanmu berbuat maksiat.”
            Mendengar perkataan Ibrahim, sang ahli maksiat itu dengan rasa penasaran bertanya, “Ya, Abu Ishaq (panggilan Ibrahim bin Adham) apa saja syarat-syarat itu?”
            Ibrahim bin Adham berkata, ”Syarat pertama, jika Anda ingin melakukan maksiat kepada Allah, maka janganlah kamu memakan rezeki-Nya.”

            “Lalu, aku harus makan dari mana? Bukankah semua yang di bumi ini rezeki Allah?” kata sang ahli maksiat penuh keheranan.
            Ibrahim bin Adham berkata lagi, “Ya, kalau Anda sudah menyadarinya, masih pantaskah kamu memakan rezeki-Nya, sedangkan kamu melanggar perintah-perintah-Nya. Kemudian syarat kedua, kalau Anda ingin bermaksiat kepada-Nya, maka jangan tinggal di bumi-Nya.”
            “Ya, Abu Ishaq, kalau demikian aku tinggal di mana? Bukankah semua bumi dan isinya ini kepunyaan Allah?” kata lelaki itu.
            “Ya Abdullah, renungkanlah olehmu, apakah masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan kamu masih hendak melanggar perintah-Nya?” kata Ibrahim tegas.
            “Ya, benar engkau Abu Ishaq,” tutur lelaki itu tertunduk pasrah.
            Ibrahim bin Adham kembali berkata, ”Syarat ketiga, kalau kamu masih ingin juga bermaksiat, mau makan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah suatu tempat yang tersembunyi dan tidak dapat dilihat-Nya.”
            “Ya, Abu Ishaq , mana mungkin Allah  SWT tidak melihat kita?” ujarnya.
            Sang ahli maksiat itu pun terdiam merenungkan petuah-petuah Ibrahim. Lalu ia kembali bertanya, ”Ya, Abu Ishaq, kini apa lagi syarat keempat?”
“Kalau malaikat maut datang hendak mencabut  ruhmu, katakanlah kepadanya, ‘Undurlah kematianku. Aku masih ingin bertaubat dan melakukan amal shalih,” kata Ibrahim .
            “Ya Abu Ishaq, mana mungkin malaikat maut akan mengabulkan permintaan ku itu,” jawab lelaki itu.
            “Baiklah, ya Abu Ishaq. Sekarang syarat kelimanya apa lagi?” tanyanya lagi.
            “Ya Abdullah, kalau malaikat Zabaniyah datang hendak membawamu ke api neraka di hari kiamat, janganlah kamu mau ikut bersamanya!”
“Ya, Abu Ishaq, jelas mereka (malaikat Zabaniyah) tidak mungkin membiarkan aku menolak kehendak-Nya,”  ujar lelaki itu.
“Kalau memang demikian, jalan apa lagi yang dapat menyelamatkan dirimu ya Abdullah?” tanya Ibrahim bin Adham.
“Ya Abu Ishaq, cukuplah! Cukup! Jangan engkau teruskan lagi. Mulai detik ini aku beristighfar dan bertobat dengan sebenar-benarnya kepada Allah,” ujar lelaki itu sambil menangis penuh penyesalan.

Affan Madjrie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar