Kamis, 14 April 2016

Mewaspadai Penyusupan

ilustrasi Abdulloh bin Ubay


Oleh : Hep Andi Bastoni/0817194560
IG : @Hepiandibastoni

Menjelang terbit fajar, Rasulullah saw melanjutkan perjalanan. Setelah tiba di asy-Syauth, beliau dan para sa­habatnya melakukan shalat Shubuh. Tempat ini tak begitu jauh dari bukit Uhud. Dengan de­mikian, antara pasukan kafir Quraisy yang berjumlah tiga ribu orang dan kaum Muslimin yang hanya seribu orang dapat saling me­mandang.

Di tempat itulah Abdullah bin Ubay, gem­bong munafik Madinah, berkhianat. Bersama tiga ratus prajuritnya, ia memisahkan diri dari pasukan. Alasannya, “Ka­mi tak tahu, menga­pa kami mem­bu­nuh di­ri kami sendiri?” Mak­­sudnya, ia memi­sah­kan diri karena Ra­sulullah saw tak me­nye­tujui penda­patnya yang menginginkan tetap berada di Madinah, bukan menyongsong musuh di medan Uhud.
Tentu, penyebab pena­ri­kan itu bukanlah seperti yang dia ungkapkan. Kalau benar alasan karena tak setuju de­ngan pendapat Nabi, tentu sejak awal ia sudah menarik diri. Abdullah bin Ubay ingin men­ciptakan kekacauan dalam pasukan kaum Mus­limin dan berharap kaum Muslimin akan me­ninggalkannya dan berbalik mengangkatnya se­ba­gai pemimpin. Ia juga berharap, tindak­annya berkhianat di tengah perjalanan akan menjatuhkan mental kaum Muslimin.


Hampir saja sang munafik itu berhasil mewujudkan keinginannya. Dua kelompok, yaitu Bani Haritsah dan kabilah Aus dan Bani Salmah dan Khazraj, hampir saja menarik diri karena ketakutan. Allah menolong mereka dan mene­nangkan kembali kedua kelompok itu setelah mengalami kegoncangan. Tentang kedua ke­lompok ini, Allah berfirman “(ingatlah) ketika dua golongan dari kamu ingin (mundur) karena ta­kut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang beriman itu bertawakal, “ (QS Ali Imran: 122).

Abdullah bin Haram, ayah Jabir bin Abdullah, berusaha mengingatkan orang-orang munafik tersebut terhadap kewajiban mereka pada saat yang genting itu. Abdullah bin Haram mence­la dan menganjurkan mere­ka untuk kembali ber­gabung lagi dengan mengata­kan, “Ma­rilah berperang di jalan Allah, atau pertahankanlah negerimu!”

Mereka menjawab, ”Se­an­dai­nya kami me­nge­tahui bahwa kalian akan berperang, niscaya kami tidak akan pulang.”

Beginilah jawaban mereka sebagai penghinaan kepada Nabi saw dan para sahabat, yang mereka anggap tak me­ngerti strategi perang. Men­dengar jawaban itu, Abdullah bin Haram meninggalkan  mereka seraya ber­kata, “Semoga Allah menjauhkan kalian, wahai musuh-musuh Allah. Allah akan mencukupkan Nabi-Nya dari kalian.”

Berkenaan dengan orang-orang munafik ini Allah berfirman, “Dan supaya Allah menge­tahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankan (dirimu).’ Mereka ber­kata, “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentu kami mengikuti kamu.  Mere­ka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan de­ngan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan,” (QS Ali Imran: 167).

Setelah terjadi pengkhianatan orang-orang munafik, Rasulullah saw mengerahkan sisa pasukan yang berjumlah tujuh ratus prajurit untuk melanjutkan perjalanan. Perang Uhud di­ca­tat sejarah. 

Berkurangnya sepertiga pasukan tak melemahkan kekuatan kaum Muslimini. Kalau pasukan panah yang berada di bukit Rumat tak melupakan nasihat Rasulullah saw, wajah sejarah akan nampak lain. Kaum Musli­min tentu keluar sebagai pemenang.

Sosok seperti Abdullah bin Ubay selalu lahir dalam lembaran masa. Ia ada untuk mewarnai sejarah. Ia ada untuk menguji keteguhan mere­ka yang berjuang dengan ikhlas.

Ciri khas kelompok ini adalah kemampuan mereka mengubah-ubah wajah. Pagi jadi pe­nolong, sore jadi pecundang. Hari ini jadi pem­bela, keesokan harinya jadi pembunuh. Begi­tulah wajah orang-orang munafik. Menggunting dalam lipatan, menyusup dalam barisan dan mendompleng di tengah perjuangan.

Pada masa sekarang wujud kegiatan me­reka bisa beragam. Di panggung politik, mereka menjadi petualang ulung dan kutu loncat dari satu partai ke partai lain. Di hadapan media, mereka pencari muka paling jago. Semua aktivi­tas kebaikannya selalu ingin dilihat orang, dishooting televisi, dicatat koran dan menjadi omongan orang. Di kalangan para pejuang ia selalu hadir untuk memanfaatkan peluang. Keberadaannya selalu ada ketika kemenangan hampir menjelang. Ia ibarat “polisi India” yang datang untuk menutup ending cerita seraya mengaku sebagai pejuang.

Bagi umat Islam, keberadaan sosok seperti ini lebih berbahaya dari keberadaan musuh yang sebenarnya. Dalam perang Uhud, misal­nya, tiga ribu pasukan kafir Quraisy tak membuat mereka gentar. Tapi pengkhianatan Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya sempat membuat mereka bergeming. Kekuasaan Allahlah yang menjadikan mereka tetap tegar untuk mene­ruskan langkah menuju medan jihad.

Dalam pentas sosial, keberadaan orang-orang seperti ini tak kalah berbahaya. Mereka bisa menyusup di tengah misi-misi kebaikan. Mereka paling lihai memanfaatkan peluang.

Karenanya, musibah tsunami yang melan­da Aceh dan sekitarnya, jangan sampai menjadi celah bagi keturunan Abdullah bin Ubay untuk menuai hasil. Sebab, sosok seperti ini bisa lahir dengan beragam misi; kekuasaan dan ideologi. Misi kedua ini yang paling berbahaya. Apalagi kalau melihat negeri Aceh sendiri yang dilatari syariah Islam yang kental. Hal ini akan membuat ambisi kaum paganis untuk me­nyusupkan misinya lebih besar.

Ditemukannya gambar salib pada bung­kusan-bungkusan bantuan dan adanya pen­deta yang berusaha membujuk para pengung­si untuk murtad, merupakan fakta konkret atas adanya usaha memurtadkan masyarakat Aceh. Nyata sekali penyusupan mereka. Secara logika hal ini sangat mudah diterima akal. Se­bab, hal yang sama juga telah mereka lakukan di daerah-daerah konflik dan masyarakat berekonomi lemah. Karenanya, peranan umat Islam terhadap korban bencana tsunami tak hanya berbentuk materi. Selain uang, makanan dan pakaian, mereka juga membutuhkan dokter, psikolog dan—yang tak kalah penting—juru dakwah.


Jangan sampai umat yang berkeringat, tapi orang lain yang menuai manfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar