Rabu, 16 Juli 2014

Bersedekah di Bulan Berkah


“Rasulullah saw lebih dermawan daripada angin yang bertiup,” (HR Bukhari Muslim).

            Sedekah adalah penyubur pahala, dan melipat gandakan rezeki. Sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Allah adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang hampir setiap desah napas selalu membangkang perintah-Nya, Dia tetap mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira. Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, pasti akan kembali kepada kita.

Demikian juga dengan harta yang kini ada di genggaman kita. Semuanya datang dari Allah yang Maha Kaya. Dititipkan-Nya pada kita untuk dimanfaatkan sebaik mungkin. Kita akan mendapatkan balasan pahala dari-Nya, sebagian di dunia dan sebagian saat menghadap-Nya kelak di Hari Pembalasan.
Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah teladan utama dalam bersedekah. Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan. Kedermawannya lebih besar di bulan Ramadhan. “Rasulullah saw lebih dermawan daripada angin yang bertiup,” (HR Bukhari Muslim).
Bukti konkret kedermawanan para sahabat, terlihat nyata ketika Rasulullah saw menyeru mereka untuk ‘membiayai’ perang Tabuk. Saat itu, Utsman bin Affan tengah menyiapkan kafilah dagangnya  ke negeri Syam berupa 200 unta lengkap dengan pelana dan barang dagangannya. Begitu mendengar seruang Rasulullah saw, ia segera menginfakkan seluruh hartanya itu seraya menambahkannya dengan 100 unta dengan pelana dan perlengkapannya. Kemudian, ia datang membawa 1000 dinar dan meletakkan di pangkuan Rasulullah saw. Beliau memperhatikan pemberikan Utsman seraya berkata, “Apa yang diperbuat Utsman setelah ini, tidak akan membahayakannya. Utsman terus bersedekah hingga mencapai 900 unta dan seratus kuda. Jumlah itu belum termasuk uang cash yang diberikan langsung pada Rasulullah saw.
Dapat kita bayangkan jumlah sedekah Utsman. Kalau saja satu ekor unta seharga 10 juta rupiah, berarti Utsman telah berinfaq lebih dari sembilan milyar rupiah. Jumlah ini belum termasuk harga kuda dan uang cash yang diberikan Utsman.
Para sahabat lain seperti tak mau ketinggalan. Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Dia tidak meninggalkan sesuatu pun untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasul-Nya. Umar bin Khaththab menyerahkan setengah hartanya. Para sahabat lain juga tak mau ketinggalan. Bahkan, kaum wanita pun menyerahkan berbagai perhiasan yang mereka miliki, seperti gelang, anting dan cincin. Tak ada yang kikir dan menahan hartanya kecuali orang-orang munafiq. Allah berfirman, “(orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya. Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih,” (QS at-Taubah: 79)..
Begitu besar keinginan para sahabat menyedekahkan hartanya bisa dipahami. Mereka tahu bahwa harta hanyalah titipan. Allah akan melipat gandakan pahala orang yang bersedekah. Allah berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” (QS al-Baqarah: 261).
             Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? 'Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari gunung?'.
            Allah menjawab, 'Ada, yaitu besi.' Para malaikat pun kembali bertanya, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari besi?' Allah menjawab, 'Ada, yaitu api.' Para malaikat kembali bertanya, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari api?' Allah menjawab, 'Ada, yaitu air.'
'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?' tanya para malaikat. Allah pun menjawab, 'Ada, yaitu angin.' Akhirnya para malaikat bertanya lagi, 'Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?'. Allah yang Maha Gagah menjawab, 'Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.'"
            Sedekah adalah pemberian dari seorang Muslim secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi waktu dan jumlah (haul dan nishab) sebagai kebaikan dengan mengharap ridha Allah. Dari segi bentuknya, sedekah sesungguhnya tidak dibatasi pemberian dalam bentuk uang, tetapi sejumlah amal kebaikan yang dilakukan seorang Muslim.
Abu Musa al-Asy’ari berkata bahwa Nabi saw bersabda, ”Tiap Muslim wajib bersedekah.”
            Sahabat bertanya, ”Jika tidak dapat?” Nabi menjawab, ”Bekerjalah dengan tangannya yang berguna bagi dirinya dan ia dapat bersedekah.” Sahabat bertanya lagi, ”Jika tidak dapat?”
”Membantu orang yang sangat membutuhkan,” jawab Rasulullah saw.
Sahabat bertanya lagi, ”Jika tidak dapat?”
”Menganjurkan kebaikan.”
Sahabat bertanya lagi, ”Jika tidak dapat?”
”Menahan diri dari kejahatan, maka itu sedekah untuk dirinya sendiri.”
            Hadits yang diriwayatkan Bukhari tersebut menggambarkan empat tingkatan dalam bersedekah. Pertama, bekerja dan berusaha dengan kemampuan sehingga mendapat keuntungan. Dari keuntungan itu ia bisa bersedekah. Keutamaan seorang Muslim jika bekerja dengan tekun penuh keikhlasan, akan kuat secara ekonomi yang dipandang oleh Allah lebih baik dan lebih dicintai.
Kita patut iri kepada Muslim yang mendapatkan rezeki kemudian menyedekahkannya di jalan Allah. Abdullah bin Mas’ud meriwayat seperti tertera dalam Shahih Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah menyebutkan, tidak ada iri hati yang diperbolehkan, selain pada dua hal. Yaitu, terhadap seorang Muslim yang dianugerahi harta, lalu tergeraklah hatinya untuk menghabiskannya menurut jalan yang hak, dan terhadap seorang Muslim yang telah diberi ilmu yang bermanfaat Allah, lalu ia menggunakannya.
            Kedua, membantu orang yang sangat membutuhkan. Karenanya, al-Qur’an sangat menganjurkan kita untuk membantu orang yang benar-benar dalam kesulitan, seperti mereka yang sedang dililit utang. Allah berfirman, “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui,” (QS al-Baqarah: 280).
            Ketiga, menyuruh kepada kebaikan. Kebaikan yang dilakukan seseorang karena perintah atau anjuran saudara Muslimnya yang lain, akan menjadi sedekah. Sebab, siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka seolah-olah ia melakukan kebaikan sebagaimana seseorang melakukannya. Dalam sebuah hadits Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia pun akan menanggung dosa yang sama dengan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun,”  (HR Muslim). 
            Keempat, menahan diri dari perbuatan yang buruk yang dapat menjerumuskan seseorang pada kezaliman merupakan sedekah. Sebab, menahan diri adalah sikap yang cukup sulit untuk dilakukan dan hanya orang yang terlatih yang akan mampu menahan diri dari segala bentuk kejelekan. Sedangkan latihan menahan diri hanya dapat dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa. Di sinilah puasa turut menentukan peran.
            Dari penjelasan tersebut, maka sedekah tak mesti dengan mengeluarkan sejumlah materi atau uang, tetapi semua amal kebaikan yang dilakukan seorang Muslim, seperti menciptakan kebersihan lingkungan, bersikap santun, memberikan pendidikan agama kepada anak dan istri. Bahkan memberikan senyuman pun adalah sedekah (HR Baihaqi). Membuang duri atau apa saja yang mengganggu di jalan, juga termasuk sedekah (Muttafaqun ‘alaihi). Berbicara baik dan melangkahkan kaki menuju shalat, pun termasuk sedekah (HR Bukhari Muslim). Bahkan, dalam hal-hal tertentu, berbicara baik justru lebih besar pahalanya dibanding berinfaq yang diikuti dengan riya’. Allah berfirman, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima),”  (QS al-Baqarah: 263).

            Dan, Ramadhan merupakan momen paling tepat untuk memperbanyak sedekah. Dengan apa saja yang kita mampu. Yang kita miliki.

Hepi Andi Bastoni (@andibastoni)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar