Kamis, 31 Maret 2016

Jalin Hubungan Ulama dan Umara


Oleh : Hepi Andi Bastoni 
IG : @Hepiandibastoni

Suatu hari Abdul Malik bin Marwan, khalifah Kelima Daulah Umayyah mengutus asy-Sya’bi, seorang tabiin di masanya, menemui Raja Romawi. Setelah tiba, asy-Sya’bi segera menemui sang raja dan mendengarkan serta memperhatikan yang disampaikannya. Asy-Sya’bi pun menyam­paikan pesan sang Khalifah kepadanya de­ngan kemampuan diplomasi yang tinggi. Raja Romawi begitu kagum dengan ketajaman berpikirnya dan he­ran akan keluasan pandangan serta kemampuan menjelas­kan­nya. Atas kelebihannya itu, Raja Romawi meminta agar me­netap beberapa hari di istananya.

Namun asy-Sya’bi menolak. Setelah sedikit memaksa, akhir­nya sang raja mengizinkannya kembali ke Damaskus. Sebe­lum meninggalkan istana, Raja Romawi bertanya, “Apakah eng­kau dari keluarga kerajaan?”

“Bukan, saya hanya salah seorang dari kaum Muslimin,” jawab asy-Sya’bi.
Setelah sang raja Romawi memberikan izin untuk kembali, ia berkata kepada asy-Sya’bi, “Kalau engkau sudah kembali menemui khali­fah Abdul Malik, sampaikan kepadanya semua yang ingin diketahuinya. Lalu berikan surat ini kepadanya.”

Setelah asy-Sya’bi kembali ke Damaskus, ia langsung menemui Abdul Malik dan membe­ritahukan semua yang dilihat dan didengarnya serta menjawab semua yang ditanyakan kepa­danya. Ketika Amirul Mukminin bangkit akan pergi, ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Raja Romawi menitipkan surat kepada saya untuk­mu.” Lalu ia menyerahkan surat itu kepada kha­lifah dan berlalu dari hadapannya.

Setelah Abdul Malik membacanya, ia berka­ta kepada beberapa pesuruhnya, “Panggil asy-Sya’bi dan suruh menghadapku.” Lalu para pe­su­ruh itu memanggil asy-Sya’bi.
“Apakah engkau tahu isi surat ini, wahai asy-Sya’bi?” tanya khalifah setelah asy-Sya’bi menghadap.

“Tidak, wahai Amirul Mukminin,” jawab asy-Sya’bi cepat.
“Raja Romawi menulis su­rat kepada saya yang isinya se­perti berikut. Aku sangat heran kepada orang Arab. Mengapa mereka mengangkat orang lain sebagai raja, bukan pemuda ini (maksudnya asy-Sya’bi)?”

Dengan segera asy-Sya’bi men­jawab, “Dia (Raja Romawi) berkata seperti itu karena tak mengetahui Amirul Mukminin se­cara langsung. Seandainya dia melihatmu secara lang­sung, wahai Amirul Mukminin, tentu dia takkan berkata seperti itu.”

“Apakah kamu tahu, untuk apa Raja Ro­mawi menulis surat begini kepadaku?”

“Tidak, wahai Amirul Mukminin,” jawab asy-Sya’bi polos.

“Sebenarnya dia menulis kepadaku seperti itu karena ingin menghasutku untuk mem­ben­cimu. Dia ingin menyuruhku untuk membunuh dan melenyapkanmu,” kata Abdul Malik.
Peristiwa yang dialami asy-Sya’bi dan Abdul Malik bin Marwan dalam kisah di atas meng­gambarkan betapa musuh kaum Muslimin tak per­nah diam. Mereka tak mau melihat adanya jalinan erat antara ulama dan umara. Pada ki­sah di atas, Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah umara sedangkan Amir bin Syurahbil al-Himyari adalah seorang ulama. Antara ke­duanya terjalin hubungan erat.

Keadaan itu tentu saja tak menyenangkan hati Raja Romawi. Apalagi setelah ia menge­tahui watak dan kadar keilmuan asy-Sya’bi yang kala itu sangat berperan bagi Abdul Malik dalam menentukan kebijakan. Dalam suratnya itu, Raja Romawi mempunyai dua target. Pertama, se­andainya surat itu dibaca oleh asy-Sya’bi, tentu akan membuat sang ulama bangga diri dan merasa “besar” di depan khalifahnya. Namun, target ini tak tercapai karena asy-Sya’bi tak mem­buka surat, tapi langsung menyerahkannya pada sang khalifah.

Kedua, seandainya surat itu dibaca oleh sang khalifah, tentu akan menimbulkan rasa dengki di hatinya dan ada kemungkinan muncul keinginan untuk melenyapkan asy-Sya’bi dari lingkungan istana. Namun, lagi-lagi terget ini gagal. Khalifah Abbul Malik bukanlah orang yang mudah diadu domba. Selain itu, ia juga sudah sangat mengetahui watak asy-Sya’bi sehingga tak perlu ada yang dikhawatirkan.

Di era  sekarang ulama (baca: orang yang mempunyai latar belakang ilmu syariah) sudah banyak yang  duduk di kursi parlemen, tuntutan agar hubung­an antara ulama dan umara dipererat, kian dibu­tuhkan. Untuk itu, kematangan berpikir para ula­ma dan umara sangat dituntut.

Eratnya hubungan antara ulama dan uma­ra ini menjadi momok menakutkan bagi musuh-mu­suh Islam. Mereka sangat kha­wa­tir, jika dua pihak ini bergandengan tangan, akan memper­sulit gerak mereka. Sebaliknya, bagi umat Islam, terjalinnya hubungan antara ulama dan uma­ra secara baik merupakan mo­dal utama me­lakukan pembangunan. Ka­renanya, sejarah kejayaan umat Islam tak bi­sa dilepaskan begitu saja dengan keeratan jalinan ulama dan umara.

Baik di masa pemerintahan Daulat Umay­yah maupun Abbasiyah, hubungan ulama dan umara berjalan baik. Para khalifah kedua ke­rajaan itu, biasa memanggil ulama untuk minta nasihat. Sebaliknya, para ulamanya pun tak segan-segan memberikan nasihat pada para penguasa.

Adanya para ulama yang bisa mendam­pingi umara tak lahir begitu saja. Ia dibe­sarkan oleh iklim ilmu dan lingkungan yang baik. Asy-Sya’bi, tabiin yang lahir di Kufah enam tahun setelah khalifah Umar bin Khath­thab wafat ini, merupakan pembelajar yang luar biasa. Mes­kipun lahir dan dewasa di Ku­fah, namun Madinah al-Munawarah men­jadi dambaan hatinya.

Asy-Sya’bi diberi kemudahan oleh Allah un­tuk bertemu dengan lima ratus sahabat Rasu­lullah saw. Ia meriwayatkan hadits dari seba­gian besar para sahabat senior, seperti Ali bin Abi Thalib, Saad bin Abi Waqqash, Zaid bin Tsabit, Ubadah bin Shamit, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Said al-Khudhri, Nu’man bin Basyir, Ab­dullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Adi bin Hatim, Abu Hurairah, Aisyah, dan lain-lain.

Asy-Sya’bi sangat mencintai ilmu pe­ngeta­huan. Ia mempunyai halaqah (majelis penga­jian) di Masjid Kufah. Para pengikutnya menge­lilinginya secara berkelompok. Para sahabat Rasulullah yang masih hidup kala itu sering menghadiri majelisnya. Abdullah bin Umar per­nah hadir. Ketika itu, asy-Sya’bi menceritakan beberapa peperangan dalam Islam secara rin­ci di depan para jamaahnya. “Sa­ya benar-benar telah menyaksikan de­ngan mata kepala sendiri sebagian yang di­ce­ritakannya. Saya mende­ngar­kannya lang­sung dengan kedua telinga sa­ya, tetapi dia tetap lebih baik daripada saya da­lam men­ceritakannya,” ujar Abdullah bin Umar.

Gambaran di atas membuktikan keluasan ilmu asy-Sya’bi dan ketajaman ingatannya. Ulama seperti inilah yang bisa menjadi pen­damping para penguasa. Ia lahir dan besar ber­sama ilmu dan pengetahuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar