Rabu, 17 Februari 2016

Melahirkan Generasi Terbaik


Oleh : Hepi Andi Bastoni
IG : @HepiAndiBastoni

Berkali-kali Umar bin Abdul Aziz berusaha memejamkan matanya. Namun, tetap saja ia tak bisa tidur. Ia diliputi kegelisahan yang amat sangat. Ia sedang memikirkan siapa yang akan ia pilih menjadi hakim Bashrah, keesokan harinya.

Saat itu pilihannya hanya tertuju pada dua orang yang sama-sama kredibel, memiliki pemahaman agama yang baik, tegar dalam menegakkan kebenaran, memiliki pemikiran cemerlang dan jeli memandang sesuatu. Umar bin Abdul Aziz terus menimbang mana di antara keduanya yang terbaik. Namun, setiap kali mendapatkan kelebihan pada salah satu di antara keduanya dalam satu hal, ia juga menemukan kelebihan lain pada sosok satunya lagi dalam hal berbeda.


Keesokan harinya, Umar bin Abdul Aziz memanggil gubernur Irak, Adi bin Artha‘ah yang saat itu sedang berada di Damaskus. Umar berkata, “Wahai Adi, pertemukanlah Iyas bin Muawiyah al-Muzanni dan Qasim bin Rabi’ah al-Haritsi. Ajaklah bicara keduanya mengenai Bashrah, lalu pilihlah salah seorang dari mereka sebagai hakim.”

Selanjutnya, Adi bin Artha‘ah mempertemukan Iyas dan Qasim. Di hadapan keduanya, Adi berkata, “Amirul mukminin menyuruhku mengangkat salah seorang dari Anda berdua untuk menjadi hakim di Bashrah. Bagaimana pendapat kalian?”

Iyas bin Muawiyah dan Qasim bin Rabi’ah, masing-masing saling mempersilakan seraya menyebutkan bahwa kawannya lebih berhak daripada dirinya dengan jabatan ini dan menyinggung keutamaan, ilmu dan fiqih serta hal-hal lainnya. Intinya keduanya berusaha menolak.

Adi berkata, “Anda berdua tak boleh meningalkan majlisku ini kecuali kalau sudah ada keputusan.”

Iyas bin Muawiyah berkata, “Tanyakanlah kepada dua orang ahli fiqih Irak, yaitu Hasan Bashri dan Muhammad bin Sirin tentang saya dan Qasim. Keduanya bisa membedakan antara kami berdua.”

Sebelumnya Qasim lebih sering mengunjungi kedua ahli fiqih itu. Sedangkan Iyas tidak ada hubungan sama sekali dengan keduanya. Qasim tahu bahwa Iyas sebenarnya ingin agar dirinya (Qasim) yang menjadi hakim Bashrah.

Mengetahui siasat Iyas tersebut, Qasim buru-buru berkata, “Wahai Adi, jangan tanyakan lagi kepada siapa pun tentangku dan dia. Demi Allah Yang Tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, Iyas adalah orang yang lebih faham tentang agama dan lebih mengerti tentang peradilan daripadaku. Jika aku berdusta dalam sumpahku ini, engkau tak boleh menunjukku sebagi hakim, karena saya sudah melakukan kebohongan. Jika aku berkata jujur, maka engkau juga tak boleh menunjuk orang yang kurang keutamaannya padahal ada orang yang lebih utama darinya!”

Iyas menoleh ke arah gubernur dan berkata kepadanya, “Wahai gubernur, sesungguhnya Allah telah menghadirkan seseorang untuk engkau jadikan sebagai hakim. Namun engkau menghentikannya di pinggir neraka Jahannam, lalu dia berusaha menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsunya yang senantiasa dia mohonkan agar Allah mengampuninya dan dia dapat selamat dari apa yang dia takutkan.”

Adi berkata kepadanya, “Orang yang memiliki pemahaman sepertimu ini amat pantas untuk dijadikan hakim.” Kemudian ia menunjuknya sebagai hakim Bashrah.
Kenyataan hari ini sangat berbalik dengan apa yang dialami Umar bin Abdul Aziz. Kalau Khalifah Bani Umayyah yang dijuluki Khalifah ar-Rasyidah Kelima itu bingung untuk menentukan mana yang terbaik di antara yang baik, maka hari ini sebaliknya. Kita dihadapkan pada pilihan: memilih yang paling sedikit buruknya di antara orang-orang buruk. Inilah kenyataan hari ini.

Akibatnya, yang terpilih bukanlah orang baik sebab mereka dipilih dari orang yang memang tidak baik. Inilah bedanya kenyataan sekarang dengan keadaan di masa Rasulullah saw. Seperti yang terjadi dengan Umar bin Abdul Aziz, para sahabat Rasulullah saw tak merasa kesulitan mencari khalifah pengganti beliau. Kalaupun  mendapat kesulitan, mereka susah memilih yang terbaik di antara orang-orang baik.

Hampir seluruh para sahabat Rasulullah berada di atas rata-rata baik. Kendati mereka menjalani hidup dengan ragam profesi, tapi kemampuan mereka berada di atas rata-rata. Di antara mereka banyak yang jadi pedagang, guru, atau prajurit perang. Tapi mereka hapal al-Qur’an, rajin shalat tahajud dan gemar berinfak.

Generasi seperti inilah yang harus kita siapkan. Tentunya tanpa harus meninggalkan bidang-bidang penting lainnya. Dengan kata lain, sebelum menjadi dokter, insinyur atau pejabat apa pun, mereka harus dibekali nilai-nilai Islam yang baik. Dengan demikian, ketika menduduki jabatan tertentu, mereka sudah siap.

Pelajaran lain yang menarik untuk diteladani adalah sikap Iyas bin Muawiyah dan Qasim bin Rabi’ah. Keduanya berusaha menghindari jabatan dan saling mempersilakan orang lain. Padahal, jabatan yang ditawarkan kepada keduanya termasuk posisi empuk dan basah. Hakim!

Teramat berbeda dengan fenomena hari ini dimana orang-orang berlomba memperebutkan jabatan. Bahkan, untuk mendapatkan jabatan tak jarang yang sampai menyingkirkan orang lain.

Sosok seperti Iyas bin Muawiyah dan Qasim bin Rabi’ah tak lahir secara tiba-tiba. Untuk mendapatkan sosok seperti mereka, diperlukan kerja keras yang berkelanjutan. Di sinilah peran kaderisasi menjadi amat penting. Pemimpin adil dan bijaksana, serta tokoh berilmu tapi tawadhu’ tak mungkin “disulap” dalam hitungan hari atau bulan. 

Iyas bin Muawiyah yang lahir pada 46 H di kawasan Yamamah, sengaja pindah bersama keluarganya ke Bashrah. Di kota itu Iyas dibesarkan di tengah-tengah para ulama. Di usia yang masih kecil, Iyas biasa pulang pergi ke Damaskus untuk menimba ilmu kepada para sahabat dan tabiin. Saat itu, ketika memasuki Damaskus, umurnya belum mencapai baligh.

Akhirnya, terlalu sulit berharap dari generasi tua sekarang. Tak ada pilihan, kita harus melahirkan dan mendidik generasi muda untuk kita siapkan sebagai pemimpin di masa datang. Saat itulah kebingungan kita akan berubah. Dari bingung memilih yang paling sedikit mudharatnya di antara orang-orang buruk, menjadi bingung menentukan yang terbaik di antara orang-orang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar