Selasa, 10 Maret 2015

Kriteria Sebuah Aliran Dianggap Sesat

Oleh: Hepi Andi Bastoni, MA
(Ketua Yayasan Tahfizh Qur’an Az-Zumar Bogor)
0817-1945-60

Dikemukakan dalam penutupan rakernas MUI di Hotel Sari Pan Pacific, Jl.MH. Thamrin, Jakarta, Selasa (6/11/2007) tentang Kriteria Aliran Sesat yaitu sebagai berikut:


1.   Mengingkari salah satu dari rukun Iman dan Islam.
2.      Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Alquran dan sunnah.
3.      Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.
4.      Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran.
5.      Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6.      Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam.
7.      Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
8.      Mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.
9.    Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke baitullah, salat wajib tidak 5 waktu.
10.  Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.


Di antara 10 poin yang diutarakan oleh MUI tentang ciri-ciri aliran sesat itu, ada pdaa Syiah.
Pertama, mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam. Dalam buku “40 Masalah Syiah”, sebuah buku yang ditulis oleh Renita AZ, istri Jalaludin Rahmat, menyatakan dengan jelas bahwa rukun iman orang Syiah itu berbeda dengan ahlu sunnah, rukun Iman orang syiah adalah tauhid, al-adl, al-ma’ad, imamah, dan nubuwwah. Begitu juga dengan rukun Islamnya. Dalam bukunya, Renita juga mengatakan rukun Islam orang syiah itu jumlahnya ada 13. Jika dirujuk langsung ke buku ulama syiah seperti dalam kitab Biharul Anwar jilid 11 pada halaman ke 542 karangan ulama syiah yaitu Al-Majlisi, disebutkan ada sebuah hadits yang bersumber dari Abu Said Al-Khudzri :”Manusia diperintahkan untuk melakukan 5 hal, tetapi justru manusia melakukan 4 hal, Mereka bertanya: Apa itu ya Abu Said? Shalat, zakat, haji dan puasa. Mereka bertanya lagi, “Satu hal yang ditinggalkan itu apa?” Yaitu hendaknya mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin. Maka, jika manusia meninggalkan hal ini, mereka telah kafir.” Konsep ini yang disebut oleh kelompok syiah dengan al-wilayah yaitu mencintai Ali bin Abi Thalib, membenci orang-orang yg dibenci Ali, mencintai orang-orang yang dicintai oleh para imam, dan mencintai apa yang dicintai dan membenci apa yang dibenci oleh kalangan syiah.
Maka, bagi kelompok syiah siapapun yang tidak mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin sesudah Rasulullah saw, divonis kafir.

Kedua, meyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil Al-Quran dan Sunnah. Kelompok syiah meyakini bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengumpulkan Al-Quran kecuali para imam. Dalam kitab Ushulul Kaafi disebutkan, “Laa yajma’ul quraan illa imaam”. Tidak ada yang mampu mengumpulkan kecuali imam-imam syiah. Mereka juga mengatakan para imam itu mengetahui sesuatu yang ghaib. Aqidah mereka mengatakan kalau imam itu mengetahui sesuatu yang ghaib, jika dia tidak tahu dia bukan imam. Aqidah ini tidak bersumber kepada Al-Quran dan Sunnah, sehingga mereka temasuk dalam ciri kelompok sesat. Termasuk keyakinan kelompok syiah nusyairiyah yang mengatakan bahwa seluruh sahabat itu kafir dan Umar Bin Khattab ra. dikatakan sebagai “Ablasul Abaalis”, yaitu gembongnya iblis. Orang-orang Nusyairiyah itu berkeyakinan tidak ada haji, tidak ada shalat, tidak ada puasa, mereka menghalalkan khamr, menghalalkan zina, mereka mengharamkan ziyarah ke maqam Nabi Saw. hanya karena di kompleks makam Nabi Saw. ada makam Abubakar dan Umar radiyallahu ‘anhumaa.

Ketiga, meyakini turunnya wahyu setelah Al-Quran, mereka kelompok syiah mengatakan bahwa Al-Quran itu “Laa yazaalu yanzilu fii lailatul qadar”, Al-Quran (masih) senantiasa turun pada malam lailatul qadar. Sedangkan Ahlu sunnah wal jama’ah mengatakan Al-Quran itu sudah sempurna sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah dalam QS Al-Maidah ayat 5. Dalam kitab ‘Bihaarul Anwar’ disebutkan bahwa Quran syiah itu adalah ‘mushaf fatimah’ yang jumlahnya 17.000 ayat dalam kitab itu dinyatakan, “jumlahnya 3 kali lipat dari mushaf kalian. Bahasanya tidak serupa dengan mushaf kalian.”

Keempat, mengingkari otentisitas dan kebenaran Al-Quran. Kalangan syiah meyakini Al-Quran sudah tidak otentik, mereka menghujat pengumpulan yang dilakukan oleh khalifah Utsman bin Affan ra. dan mengkritk bahwa Al-Quran yang ada pada saat ini sudah tidak asli. Ustadz Anung melanjutkan hal itu diakui oleh kelompok syiah seperti yang terdapat dalam buku yang ditulis oleh Omar Hashem yang berjudul ‘Syiah Dihujat, Syiah Dicari’.

Kelima, menafsirkan Al-Quran tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir, dalam jilid ke 13 kitab “Bihaarul Anwar” yang dikarang oleh Al-Majlisi, ketika menafsirkan ayat,
إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat jahil.” (QS. Al-Ahzab: 72)
Lafadz اْلإِنسَانُ yang berarti manusia, disitu ditafsirkan oleh orang syiah yaitu, Abu Bakar.
Lafadz “Ihdina shiratal mustaqim” ditafsirkan shiratal mustaqiim (jalan yang lurus) itu adalah Ali bin Abi Thalib, sehingga yang tidak mengikuti Ali bin abi thalib adalah golongan yang sesat dan bengkok.

Lafadz “Wa yaquulul kafiru yaa laiytani kuntu turooba” diganti oleh orang syiah menjadi “kuntu turoobiya”, hal ini mengacu kepada syiah adalah golongan Abu Turob. Abu turob ini adalah salah satu panggilan Nabi Saw. kepada Ali bin Abi Thalib karena pada suatu ketika Ali ra. pernah tidur di tanah kemudian Nabi saw membangunkannya dengan sebutan “Qum ya Aba Turob.” (Bangunlah wahai Abu Turob).

Keenam, mengingkari kedudukan hadits sebagai sumber ajaran islam, syiah menolak riwayat yang datang dari Aisyah dan Abu hurairah. Mereka menuduh Ummul mukminin Aisyah ra. sebagai pendusta dan hasad. Bahkan, Ustadz Anung menegaskan dalam buku ‘Antologi Islam’ yang ditulis oleh kalangan syiah, dikatakan bahwa Aisyah turut membunuh khalifah Utsman bin Affan. Dalam buku yang ditulis oleh Hasan bin Farhan Al-maliky yang di Indonesia diterjemahkan dengan judul “Pilih Islam Atau Mazhab?” buku itu menyatakan bahwa Muawiyah ra. bukan tergolong sahabat nabi.

Ketujuh, melecehkan dan mendustakan Nabi saw. Dalam hal ini kelompok syiah gemar sekali menyerang, menghina dan melecehkan istri Nabi Saw padahal menghina Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakr ra. sama dengan menghina Nabi Saw, Aisyah dikatakan sebagai pendosa, pezina, dsb. Ketika mereka menghina istri nabi, sahabat nabi secara tidak langsung berarti menghina Nabi Saw.

Kedelapan, mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir. Sulaiman Nasir Al-Ulwan mengutip pernyataan salah seorang tokoh syiah rafidhah yaitu, Ni’matullah Aljazairi yang mengatakan, ”Barang siapa yang punya tuhan dan tuhannya mengakui Abu bakar sebagai khalifah sesudah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Maka, tuhannya bukan tuhan kita. Dan barangsiapa yang memiliki nabi tetapi nabinya mengakui bahwa Abu bakar adalah khalifah sesudah Nabi Muhammad Saw. wafat, maka nabinya itu bukan nabi kita. “Konsep ketuhanan dan kenabian syiah beda dengan ahlu sunnah,” lanjut ustadz Anung.

Kesembilan, mengurangi dan atau menambah pokok-pokok ibadah yang tidak ditetapkan oleh syariat. Hal ini jelas dilakukan oleh kelompok syiah secara terang-benderang. Syiah nusairiyah di Suriah tidak shalat, zakatnya lain, hajinya beda, mereka halalkan zina, riba, dst. Syiah Imamiyah (rafidhah) meyakini adanya nikah mut’ah.


Kesepuluh, ciri-ciri dari aliran sesat menurut Majelis Ulama Indonesia adalah mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya. Dan ini telah dilakukan oleh orang syiah dengan doktrin sebagaimana penjelasan di atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar