Senin, 06 April 2015

Sosok : Ma’mur Hasanuddin


Puas Kalau Bisa Menjalankan Amanah

Ia dilahirkan di sebelah Selatan Tasik Malaya pada 19 Desember 1959. Sejak kecil ia sudah dikenalkan dengan nilai-nilai Islam. Ma’mur mengawali pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di desa Kaputihan Tasik Malaya. Sebelum melanjutkan pendidikan ke tingkat Tsanawiyah, ia masuk pesantren Salafiyah. “Waktu itu yang dipelajari kitab-kitab kuning semua selama setahun,” kenang Ma’mur. Setelah itu ia masuk pesantren Persis di Bandung untuk menyelesaikan Tsanawiyah dan Mualimin dari tahun 1974 hingga 1980. Di samping Mualimin, ia juga mengikuti ujian Pendidikan Guru Agama (PGA). Selama di Aliyah Ma’mur mengaku aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII).
Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat Aliyah, ia melanjutkan sekolah ke LPBA (Lembaga Pembelajaran Bahasa Arab—sekarang LIPIA) di Jakarta. “Waktu itu tahun 1981 LPBA baru dibuka,” imbuh Ma’mur.

Pada 1984 ia mendapat panggilan dari Universitas di Riyadh Saudi Arabia untuk melanjutkan sekolah. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan S1 pada 1989 di Fakultas Usuluddin di Arab Saudi. “Alhamdulillah, saya juga bisa melanjutkan S2 di sebuah sekolah tinggi di Makkah sejak 1989-1991,” kenang ayah enam anak ini. Selama kuliah di Arab Saudi ia juga aktif di PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dan WAMY (World Assembly Moeslem Youth). Di Indonesia, WAMY dibuka akhir 1993. Ma’mur diamanahi menjadi Direktur WAMY untuk perwakilan di Indonesia. Saat ini ia menjadi pembina WAMY di Indonesia.
Sejak kecil semangat Ma’mur untuk menuntut ilmu tak pernah pudar. Sejak kecil ia beritikad untuk meneruskan pendidikan yang lebih tinggi. Apa pun yang dihadapi, ia tetap ingin konsisten untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. “Ketika selesai S1 di Arab Saudi, saya disuruh kembali ke Indonesia, paspor diterima di airport. Di Arab Saudi saya harus melalui pemeriksaan berkali-kali sedangkan kartu identitas sudah tidak punya. Saya hanya punya kartu perpustakaan. Tetapi saya ingin sekali meneruskan S2. Alhamdulilah, Sekjen Rabithah Alam Islami mengizinkan saya untuk melanjutkan pendidikan. Dia sangat menghargai keinginan saya untuk melanjutkan kuliah meskipun kondisinya sangat sulit,” kenang Ma’mur.
Dunia politik bagi Ma’mur bukan hal baru. “Saya mengenal politik seiring mengenal Islam. Bahwa, politik itu bagian dari Islam,” tambah suami Anni Rosyidah yang dulu sebelum era Reformasi pernah ikut kampanye salah satu partai politik berasas Islam.
Sejak 1980-an, Ma’mur sudah aktif di gerakan tarbiyah. Karenanya, ketika Partai Keadilan (PK) didirikan, ia sudah tidak ragu lagi bergabung. “Sejak berdirinya PK pada 1998, saya diamanahi menjadi Wakil Ketua DPW Jawa Barat yang kala itu diketuai Ustadz Sunmanjaya. Pada musyawarah tahun 2000, saya diamanahi Ketua DPW PKS Jawa Barat,” ujar ayah dua putri dan empat putra ini.
Saat di DPR RI Ma’mur ditugaskan di komisi VIII yang membidangi sosial, agama, perlindungan anak, perempuan dan lainnya. Menurutnya, isu Departemen Agama yang setiap tahun selalu ada yaitu isu haji. Pansus haji sudah membentuk perubahan UU lama  yaitu UU No 17 Tahun 1999, mengenai ibadah haji yang lebih baik. Agar sarana lebih diperbaiki dan kenyamanan ibadah dapat lebih dinikmati para jamaah.
Menurutnya, atas nama demokrasi, orang sering bebas menginginkan apa saja tetapi lupa bahwa di dunia ini  tak hanya mereka yag hidup. Masih banyak orang-orang beragama yang menginginkan juga agar akhlak dan moral tetap dijaga. Mereka yang mayoritas hidup beragama tentunya tak menginginkan kebebasan yang melampaui batas. Seharusnya mereka yang minoritas dapat menghormati dan menghargai suara mayoritas. Ini juga memasung pendapat hidup orang banyak yang mayoritas beragama.
Ia menambahkan, perdagangan orang juga sedang semarak di Indonesia. Ternyata yang diperdagangkan tak hanya anak-anak tapi orang dewasa. Banyak fenomena di desa-desa, wanita di usia produktif diiming-imingi untuk mendapatkan kerja di kota dengan gaji cukup menggiurkan. Tetapi ternyata itu sekadar kedok yang mengelabui wanita desa untuk dijadikan Wanita Tuna Susila (WTS) di kota-kota. “Kehormatan seseorang diperjualbelikan hanya untuk meneruskan hidup,” Ma’mur menyesalkan.
Untuk itu, menurutnya, di antara tugasnya membuat undang-undang dan melakukan pengawasan. “Yang saya lakukan dalam hal ini, rapat kerja bersama departemen terkait dengan undang-undang yang sudah dibuat dan UU yang baru menjadi RUU. Selain itu mengonsultasikannya dengan tokoh-tokoh yang terkait dengan pembahasan yang sedang kami lakukan,” papar Ma’mur.
Ma’mur juga mengamati pola atau gaya hidup di zaman sekarang. Ia menyesalkan rapat-rapat selalu dilakukan di hotel mewah yang kadang hanya dihadiri beberapa orang. “Padahal menurut saya rapat tidak mesti di hotel,” imbuhnya. Menurutnya, sikap hidup mewah bisa memengaruhi pribadi seorang dai.
Ma’mur juga termasuk sosok yang cepat tanggap dalam mengatasi masalah. Ketika mengetahui ada seorang siswi pariwisata di Bali yang tidak diperbolehkan  mengenalan foto berjilbab, ia segera menyampaikannya pada rapat di komisi. Komisi lalu menyampaikannya pada Dirjen Hindu Budha. “Keesokan harinya siswi itu diperbolehkan memakai jilbab,” ujar pengelola sebuah sekolah Islam terpadu di Cimahi Jawa Barat ini.
Dalam kondisi bangsa yang sedang terpuruk seperti saat ini, Ma’mur masih menyimpan optimisme. Menurutnya, negara kita betapa pun rusaknya, tetap ada pemimpinnya, tetap ada orang-orang yang berwibawa. Karena itu, menjadi tugas para dai untuk menyadarkan para pimpinan negeri ini.
Namun, tak hanya itu. Perubahan juga harus dimulai dari setiap individu. Hal ini tentu membutuhkan proses panjang. “Tak cukup hanya dengan teriakan Reformasi ketika tahun 1998,” ujarnya.
Masih menurut Ma’mur, kejujuran merupakan hal dominan untuk mengubah bangsa ini. Hukum juga harus dapat ditegakkan tanpa pandang bulu. Hukum tidak boleh diperjualbelikan.
Bagi Ma’mur, keberadaanya di DPR adalah amanah. “Bagi keluarga saya biasa-biasa saja karena ini adalah amanah. Saya selalu diingatkan untuk menjaga amanah  ini dengan baik,” ujar Ma’mur yang mengaku lebih senang bekerja di lapangan daripada hanya diam di kantor.
            Ia merasa paling senang kalau dapat menjalankan amanah dengan baik. Ia mengaku mempunyai kepuasan tersendiri. Kepuasan ketika mampu menjadi pelayan rakyat. 

Dikutp dari Buku "Penjaga Nurani Dewan" karya Hepi Andi Bastoni dan Syaiful Anwar halaman 145-150.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar