Jumat, 02 Januari 2015

Di Mana-mana Ada Setan


Setan sudah ditakdirkan menjadi penghuni neraka. Tak ada pilihan bagi setan kecuali mencari kawan sebanyak mungkin. Dunia perdukunan adalah pintu masuk setan yang paling lebar.

Dukun dan paranormal kian laris. Keberadaan mereka yang dulu ditutup-tutupi kini dibuka lebar. Kini mereka berani tampil di muka umum, muncul di televisi, memasang iklan di media cetak dan elektronik. Bahkan, tak sedikit yang menjadikan perdukunan sebagai profesi.
Tak ada semut kalau tak ada gula. Begitulah keberadaan dukun dan paranormal. Menjamurnya perdukunan ini tentu tak muncul begitu saja. Mereka muncul karena memang ada yang menyambut. Gejala lari ke dukun, paranormal atau "orang pintar" kini semakin mengakar kuat di setiap lini masyarakat. Ironisnya, yang doyan mendekati dukun, tak hanya masyarakat awam, tapi juga pejabat, pengusaha, kalangan profesional, dan intelektual.

Kondisi ini merupakan lahan subur bagi dunia perdukunan dan paranormal. Mereka kian gencar beriklan tentang kemampuan dan kesaktiannya yang disertai gelar atau nama yang aneh, berbau magis dan terkadang nyeleneh. Mengapa dunia perdukunan semakin subur? Ironisnya ini terjadi di masyarakat yang mengaku religius dan agamis. Paling tidak ada beberapa hal yang melatarinya.
Pertama, lemah iman dan kurangnya pemahaman agama.
Lemah iman dan kurangnya keyakinan bahwa Allah adalah tempat meminta segala keperluan adalah faktor utama bagi seseorang untuk mencari alternatif untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Padahal, meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat merupakan solusi Islami dan tepat untuk menyelesaikan masalah. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar," (QS al-Baqarah: 153).
Kedua, membungkus dunia perdukunan dengan agama. Tidak sedikit orang yang entah sadar atau tidak sering membawa-bawa lebel agama ketika menjalani aktivitas perdukunan. Penampilannya yang bak kiai dengan menggunakan sorban, jubah dan atribut lainnya, sering menipu. Mereka pun tak segan menggunakan ayat al-Qur’an atau kata-kata berbahasa Arab untuk meyakinkan “mangsa”nya.
Mereka berlindung di balik kata "doa" dan nama "Allah" untuk mengelabui orang dan meyakinkan bahwa kemampuan yang dimilikinya itu adalah pemberian dari Allah dan tak bertentangan dengan Islam.
Iblis adalah makhluk Allah yang telah nyata kekafirannya. Namun, ia tak segan-segan menggunakan sumpah dengan sifat Allah. Menerangkan hal ini, Allah berfirman, “Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka,’” (QS Shad: 82).
Karenanya, bukan hal aneh jika banyak para normal yang menggunakan nama Allah dan membaca potongan ayat-ayat al-Qur'an sebagai mantera. Penggunaan simbol-simbol agama bukan ukuran kebenaran. Sebagaimana iblis yang menggunakan sifat Allah ketika bersumpah tidak menjadi pembenaran bahwa ia tidak sesat dan menyesatkan. Selain itu, mereka mengatakan bahwa ilmu yang mereka miliki berdasar pada agama -Qur'an. Namun, saat yang sama, mereka juga memberikan syarat, azimat dan amalan-amalan yang tidak sesuai dengan al-Qur'an atau tak diajarkan Nabi Muhammad saw.
Ketiga, sufisme. Ajaran sufisme mempunyai andil dalam memupuk mistikisme. Lipstik agama yang membungkus ritual sufisme banyak mengelabui umat. Cerita-cerita mistik tentang hal-hal gaib, sering mewarnai ajaran mereka.
Keempat, pengaruh aliran kepercayaan. Latar belakang masyarakat Indonesia yang kental nuansa aliran kepercayaan, juga menjadi faktor maraknya praktik perdukunan. Kepercayaan masyarakat yang suka mistik adalah sisa-sisa pengaruh dari ajaran anismisme—kepercayaan kepada roh-roh yang mendiami semua benda, dinamisme—kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia. Termasuk juga budaya sinkretisme yang mencampuradukkan ajaran berbagai agama untuk mencari penyesuaian.
Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya. Ada di antaranya yang sudah diketahui dan ada pula yang belum. Berobat yang sesuai syariat dibolehkan menurut kesepakatan ulama. Tak dibolehkan mendatangi dukun dan paranormal yang mengaku mengetahui hal-hal gaib, untuk mengetahui penyakit yang diderita dan atau kebutuhan lainnya.
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, "Barangsiapa datang ke kahin (dukun), dan percaya apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw, " (HR Abu Daud).
Allah berfirman, "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang gaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu," (QS al-Jin: 26).
Para dukun dan paranormal tak mungkin punya "kelebihan" kecuali dengan cara berbakti, tunduk, taat dan menyembah jin. Kumkum (berendam) di pertemuan dua sungai, tapa (meditasi) di gua-gua, puasa, menyembelih hewan dengan kriteria tertentu adalah sebagian bentuk dari penyembahan jin. Pengobatan alternatif, pengisian ilmu kesaktian, susuk, jimat, wafak, pengasihan dan lainnya dalam praktiknya banyak menggunakan jin. Setiap praktik dukun dan paranormal yang menggunakan syarat, mahar, perantara dan mantera pantas dicurigai. Lewat syarat itulah, baik susuk maupun jimat, jin masuk dengan cara disadari atau tidak.
Menemui dukun dan paranormal adalah awal dari rentetan kesusahan. Tindakan itu hanyalah menyelesaikan masalah dengan menambah masalah. Jin dan setan akan terus menanamkan rasa takut, gelisah dan ketergantungan bagi para konsumen dan pengguna jasanya, yang menyebabkan ia tak akan lepas dari pengaruhnya. Syarat-syarat yang beraneka ragam—dari yang tidak rutin atau rutin dikerjakan pada waktu atau tempat tertentu—merupakan bukti kekuasaan jin atas konsumennya.
Allah mengingatkan, "Dan bahwasanya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan kepada jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rahaq," (QS al-Jin: 6). Rahaq menurut Qatadah ialah, dosa dan menambah keberanian bagi jin pada manusia. Rahaq juga berarti ketakutan. Ketika jin tahu manusia minta perlindungan karena takut pada mereka, maka jin menambahkan rasa takut dan gelisah agar manusia semakin tambah takut dan selalu minta perlindungan kepada mereka. (Ibnu Katsir, Tafsirul Qur'anil Azhim, 4/453).
Kandungan arti surat al-Falaq dan an-Nas juga merupakan bukti bahwa jin dan setan dapat berbuat jahat terhadap manusia. Juga mengajarkan kita untuk berlindung dan minta pertolongan dari hal-hal tersebut hanya kepada Allah semata. Tindakan prefentif dengan berdzikir, berdoa sesuai tuntutan agama merupakan rangkaian ibadan yang perlu dilakukan.
Sebab, takhayul, sihir dan adu nasib memiliki peluang untuk berkembang dan tersebar pada lingkungan-lingkungan dan masyarakat-masyarakat yang lemah iman. Gelombang sihir, takhayul dan gejala-gejala sosial yang sakit dan ganjil disebabkan oleh jauhnya manusia dari Islam, serta keterikatan dan ambisi mereka terhadap dunia dan kenikmatan-kenikmatan materinya.
Kembali ke agama adalah jalan terbaik agar terhindar dari dunia perdukunan yang penuh kesesatan dan kebohongan. Apalagi, godaan setan terus berlangsung dan akan selalu menggoda manusia. Setan sudah ditakdirkan masuk neraka, dan karenanya tak ada pilihan baginya kecuali mencari kawan sebanyak mungkin.
Untuk itu, ia akan selalu ada dimana manusia berada. Ia akan menyesatkan manusia dari segala arah. Menjelaskan hal ini Allah berfirman, “Iblis berkata, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (manusi) dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat),” (QS al-A’raf: 16-17).
Jadi, setan ada di mana-mana. Di sini ada setan. Di sana ada setan. Di mana-mana ada setan. Waspadalah.

Hepi Andi/@andibastoni

1 komentar: