Selasa, 12 April 2016

Koalisi Rapuh



Oleh : Hepi Andi Bastoni
IG : @HepiandiBastoni

Suatu hari Rasulullah saw dan beberapa sahabatnya mendatangi Yahudi Bani  Nadhir untuk minta bantuan mem­bayar diyat dua orang Bani Kilab yang terbunuh. Ini merupakan kewajiban mereka sesuai perjan­jian Piagam Madinah.

Bani Nadhir menyanggupi permintaan itu. Mereka meminta Nabi saw dan para sahabat­­nya menunggu di suatu tempat. Semen­tara mereka pergi menemui beberapa temannya.

Watak asli bangsa Yahudi muncul. Melihat ada peluang untuk mence­lakai Rasulullah saw, mere­ka segera membuat ren­cana keji. Salah se­orang dari mereka segera menyi­apkan batu besar untuk dilemparkan di atas kepala Rasulullah saw!

Jumat, 08 April 2016

Belajar dari Wanita Pemberani



Oleh : Hepi Andi Bastoni
IG : @Hepiandibastoni

Tuntutan dari beberapa sahabiyat menyebabkan Asma’ binti Yazid mempercepat langkahnya. Ia bergegas menemui Rasululullah saw untuk mengadukan permasalahan yang dia dan teman-temannya hadapi. Saat itu, Rasulullah saw sedang duduk bersama beberapa sahabatnya.
Di hadapan Rasulullah saw, Asma’ berkata, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu, engkau utusan Allah, sedang aku utusan para wanita Muslimah yang ada di belakangku. Mereka mengatakan seperti yang kukatakan, yang berpendapat seperti pendapatku. Sesungguhnya, Allah mengutusmu pada kaum laki-laki dan wanita. Kami beriman kepadamu dan mengikutimu. Kami para wanita terkungkung, terpingit di rumah, tempat menyalurkan syahwat bagi kaum laki-laki dan mengandung anak-anak mereka. Bisakah kami menyamai kaum lelaki dalam pahala wahai Rasullullah?”

Kamis, 07 April 2016

Kuat Jasmani dan Ruhani


Oleh : Hepi Andi Bastoni
IG : @Hepiandibastoni

Suatu ketika Raja Romawi mengirim  sepucuk surat kepada  Muawiyyah bin Abi Sufyan, penguasa Daulat Umayyah kala itu. Isinya, “Di antara adat kebiasaan raja-raja kami adalah saling menghibur, dengan jalan mengirimkan sesuatu yang “aneh” untuk diadu. Apakah Anda bersedia?”
            Surat itu dibalas Muawiyah dengan jawaban yang bernada mengizinkan. Kemudian, raja Romawi itu mengutus dua lelaki “aneh” kepada  Muawiyyah. Yaitu, seorang laki-laki jangkung, dan seorang laki-laki kuat perkasa.
Bersamaan dengan itu, raja Romawi mengirim juga sepucuk surat yang isinya, “Apakah di kerajaan Anda ada orang yang bisa menandingi kedua orang ini, baik tinggi maupun kekuatan?”
            Muawiyyah berkata kepada  Amr bin Ash, “Untuk menandingi orang tinggi itu, saya telah mendapatkan lawannya. Bahkan, mungkin lebih tinggi. Dialah Qais bin Sa’ad bin Ubadah. Tetapi orang kuat untuk menandingi yang satunya lagi, saya perlu pendapatmu!”

Selasa, 05 April 2016

Peranan Cita-cita


Oleh : Hepi Andi Bastoni
IG : @Hepiandibastoni 

Sore itu matahari memancarkan sinarnya. Cahayanya menerpa bagian atas Ka’bah yang berdiri kokoh. Beberapa sahabat Rasulullah saw yang masih hidup dan para pembesar tabi'in kala itu, melakukan thawaf di sekeliling Ka'bah. Gema takbir dan pekik tahlil menggaung, mengharumkan suasana yang penuh kesucian.
            Tak jauh dari salah satu sudut Ka’bah, empat orang pemuda yang mempunyai nasab terhormat, duduk sambil bercengkerama. Pakaian mereka menyerbakkan wewangian bagai kepakan sayap merpati yang berterbangan di sekitar Ka’bah. Keempat pemuda itu adalah Abdullah, Mush'ab, Urwah (ketiganya putra Zubair bin Awwam) dan Abdul Malik bin Marwan.

Kamis, 31 Maret 2016

Jalin Hubungan Ulama dan Umara


Oleh : Hepi Andi Bastoni 
IG : @Hepiandibastoni

Suatu hari Abdul Malik bin Marwan, khalifah Kelima Daulah Umayyah mengutus asy-Sya’bi, seorang tabiin di masanya, menemui Raja Romawi. Setelah tiba, asy-Sya’bi segera menemui sang raja dan mendengarkan serta memperhatikan yang disampaikannya. Asy-Sya’bi pun menyam­paikan pesan sang Khalifah kepadanya de­ngan kemampuan diplomasi yang tinggi. Raja Romawi begitu kagum dengan ketajaman berpikirnya dan he­ran akan keluasan pandangan serta kemampuan menjelas­kan­nya. Atas kelebihannya itu, Raja Romawi meminta agar me­netap beberapa hari di istananya.

Selasa, 29 Maret 2016

Muslimah yang Pernah Menikah Lebih dari Sekali, Siapakah Suaminya di Surga?



Kadang-kadang ada wanita muslimah yang berpisah dengan suaminya. Baik karena bercerai atau suaminya meninggal dunia. Lalu, muslimah tersebut menikah lagi. Ketika mereka semua masuk surga, siapakah yang akan menjadi suaminya?

Menyikapi Tawaran Penguasa



Oleh : Hepi Andi Bastoni
IG : @hepiandibastoni

Suatu hari, Sulaiman bin Abdul Malik, Khalifah Ketujuh Bani Umayyah, datang ke Makkah untuk melaksa­nakan ibadah haji. Ketika memulai thawaf, ia melihat Salim bin Abdullah, seorang tabiin ternama kala itu, sedang duduk khusyu di depan  Ka’bah. Kedua bibirnya tak henti bergerak, 
berdzikir memuji keagungan Allah. Air matanya berurai meng­anak sungai membasahi kedua pipinya.

Para jamaah mela­pang­kan jalan, mem­be­rikan kesempatan ke­pada  khalifah untuk duduk di samping Sa­lim. Namun, Salim bin Abdullah tetap asyik de­ngan kekhusyu’annya. Ia tak me­noleh sedikit pun dan tak menghiraukan keha­diran penguasa Bani Umayyah di sam­ping­nya.